Entry: Menjadi Batam Friday, December 08, 2006



    Batam banget sih! Setahun lalu kata itu seringkali terucap. Entah makian, entah pula penyesalan. Bagi mereka yang belum pernah ke pulau ini, wajar saja jika yang dibayangkan adalah sebuah pulau modern dengan segala gemerlap kehidupan yang menyertainya. Dulu bahkan saya berpikir bahwa yang akan saya hadapi adalah lingkungan dengan blok-blok yang teratur dan lingkungan yang terpisah-pisah antara perumahan dengan industri. Setahun disini harapan untuk itu menguap entah kemana.
    Mengharapkan batam akan bisa seperti Singapur sudah seperti mimpi disiang hari. Tak berarti. Dan kalo boleh jujur, saya lebih mengharapkan batam akan bergerak dengan keunikannya sendiri. Dengan identitas melayunya yang sudah terbukti bisa bertahan dari gerusan jaman. Alih-alih kembali menjadi melayu, pulau ini malah bergerak ke arah yang sulit diprediksi. Banyak sekali Mall dan Ruko yang dibangun. Pada awalnya mungkin hal itu menyiratkan optimisme dan gengsi daerah. Tapi seiring waktu berjalan, optimisme dan gengsi itu harus menelan ludahnya sendiri.
     Bangunan-bangunan itu sepi. Dan makin lama makin terlihat kusam tak terawat. Jika sebuah mall baru didirikan dan akhirnya berhasil dibuka, maka pada saat yang tidak terlalu lama akan ada mall yang tutup dan akhirnya bubar dengan meninggalkan gedung yang tak terawat dan seorang penjaga. Tak perlu menunggu lama  sampai akhirnya si penjaga angkat kaki juga dari gedung itu. Bahkan disebuah ruko yang baru saja selesai dibangun, pemiliknya menawarkan onkos sewa Rp 0 untuk jangka waktu setahun. NOL RUPIAH!! Tertarik? pada awalnya mungkin ya. Tapi dengan logika paling sederhana pun kita bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan bangunan itu.
    Perilaku juga menjadi perhatian serius disini. Dua puluh empat tahun tinggal dijakarta tidak cukup untuk menghentikan saya dari menggelengkan kepala saat melihat perilaku para pengendara disini. Kalo bajaj menjadi raja jalanan dijakarta maka disini ojeg adalah dewanya. Melebihi raja. Dalam lima tahun terakhir sudah dua orang yang meninggal dunia akibat terjatuh dari ojeg saat berangkat bekerja. Salah satu perusahaan dari si korban itu bahkan mengeluarkan peraturan, SP1 untuk karyawan yang naik ojeg saat masih berseragam kerja. Serius sekali.  Entah berapa jumlah orang yang tewas saat naik bajaj, tapi kok kayanya mengerikan sekali kalo harus naik ojeg untuk bepergian disini. Nyawa taruhannya.
     Adalah harapan dan mimpi yang membawa orang untuk pergi kepulau ini bukan? harapan untuk bisa hidup dengan keadaan yang lebih baik dan mimpi untuk mengajak serta orang-orang tersayang nun jauh dikampung sana untuk bersama-sama menikmati sedikit dari yang dihasilkan dipulau ini. Dan harga yang harus dibayar untuk itu semua adalah mati?
    Pada akhirnya menjadi batam adalah sesuatu yang harus dihindari. Karena menjadi batam adalah menjadi ugal2an dijalan. Menjadi batam adalah membuang-buang sumber daya untuk bisa seperti singapura. Menjadi batam adalah naik ojeg yang punya keberanian melebihi pembalap-pembalap motogp. Mungkin seharusnya batam membuat slogannya sendiri dan serius dengan itu. Menjadi singapura?
       

   5 comments

fire fighting traning
June 30, 2009   11:18 AM PDT
 
setiap penyesaln 1 iktibar
fire safety
June 29, 2009   03:41 PM PDT
 
semua tu kententuan ilahi
malaysia web design
June 29, 2009   10:59 AM PDT
 
BETUL KALU NASIB TAK BAGUS TERIMA JE LA
Helgeduelbek
December 14, 2006   01:56 PM PST
 
Yah semua itu tergantung kewaspadaan dan nasib, wong kadang jalan kaki dengan jalur yang tepat saja bisa celaka ketabrak dari arah yg gak disangka.

OK salam kenal
ralman
December 11, 2006   02:54 PM PST
 
hai,
bisa kok kenal2 sama kamu? aku juga sering ke batam.., aku dari johor bahru.
o.k. thanks.

rus_dar@yahoo.com.sg

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments