|
Waktu berjalan seiring jarum jam yang berputar. Perlahan tapi pasti. Keputusan sekali seumur hidup itu pun diambil. mengakibatkan sederet konsekuensi yang harus dijalani. Salah satu nya adalah kehilangan rumah j 98 itu. Iya, lingkungan tempat dimana J98 berada itu hanya diperuntukan untuk mereka yang berstatus karyawan bujangan. Bukan untuk mereka yang beristri atau bersuami.
Konsekuensi lainnya lagi adalah, dapat teman baru. Lingkungan yang sekarang kami (saya dan istri) tempati lebih sepi dari j98. Mungkin karena kebanyakan yang tinggal disini adalah orang-orang yang berkeluarga. Lebih teratur dan lebih bersih lingkungannya. Satpam berpatroli setiap satu jam baik siang maupun malam. Mahluk2 kecil berlarian setiap pagi dan sore. Dengan muka penuh bedak celemongan. Acara favoritnya adalah main masak2an dibawah pohon. Naik sepeda keliling komplek atau cuma mencorat coret jalanan komplek dengan kapur. Dua diantara mereka rajin sekali bertandang kerumah dan berteriak, TANTEEE!!!!! Sitante akan dengan segera membuka rumahnya dan meninggalkan segala kesibukan demi mengajak (mengawasi sebenarnya) dua temannya itu. Meyakinkan keduanya kalo kompor dan pisau bukanlah alat permainan yang menyenangkan. Mengajari membaca dan kadang-kadang menonton film kartun. Memindahkan seluruh koleksi buku ketempat yang lebih aman. Mengamankan kertas-kertas dan catatan penting sambil mengirim sms ke saya "kita butuh kertas agak banyak deh". Dan saat matahari mulai terbenam, suara dimesjid mulai menyenandungkan ayat-ayatNYA. Dengan halus sitante mengantarkan dua teman itu pulang kerumah. "Sudah saatnya pulang sayang, sebentar lagi ngaji kan?" kata sitante dengan lemah lembut. Itu teman kami yang baru. Teman yang lain bertandang saat matahari merekah. Sesaat setelah ayam jago berteriak. Lampu-lampu jalan dimatikan dan kami membuka jendela untuk membiarkan cahaya hangat matahari memasuki rumah kecil kami. Mereka sudah ada didapur kami sepagi itu. Mematuk-matuk sisa2 makanan ditempat sampah atau hanya sekedar mengobrol sesamanya. Melompat-lompat diantara jemuran. Berpindah dari lantai lalu naik lagi ketiang jemuran. Mereka bertiga, semula kami memanggil mereka "trio kwek-kwek". Ivandy, leony dan Dea. Tapi sekarang mereka berlima. Membuat pagi jadi semakin riuh. kepakan sayapnya berderu diantara panci-panci dan dan jemuran. Sekarang kami memanggil mereka "west life". Suaranya memang tak semerdu poksai, atau pandai menirukan suara seperti kakaktua. Tapi untuk ukuran burung gereja, mereka cukup bawel. Rumah baru, teman baru. Tidak melupakan yang lama tentunya. |
| Leave a Comment: |